Industri percetakan merupakan salah satu motor penggerak utama peradaban manusia. Melalui sejarah percetakan yang panjang, dari goresan sederhana blok kayu hingga mesin cetak digital berkecepatan tinggi, perjalanan tersebut merupakan bukti faktual kecerdasan dan inovasi manusia. Bila banyak industri justru gagal mengikuti perkembangan zaman, percetakan justru mengukuhkan eksistensinya di berbagai sektor.
Kisah Awal Munculnya Percetakan
Anda tentu sudah familiar dengan apa itu percetakan, tapi tidak cukup mengetahui bahwa perjalanan industri tersebut sangat panjang dan tidak serta merta hadir dalam bentuk mesin cetak modern saat ini. Semua berawal dari peradaban kuno Mesopotamia pada 3000 BC yang menggunakan segel silinder untuk mencetak gambar pada lempengan tanah liat.
Implementasinya masih rumit dan memakan waktu lama. Hingga, sekitar tahun 200-an Masehi, meskipun tidak diketahui individu pertamanya, Tiongkok mengukir sejarah percetakan di dunia dengan memperkenalkan stempel yang diukir pada kayu (woodblock printing). Desain diukir terbalik pada salah satu blok kayu, kemudian diberi tinta, ditekan di atas media untuk menghasilkan salinan.
Kertas Ditemukan Abad ke-1
Ketika teknik cetak kayu hadir, kertas sudah berhasil diciptakan terlebih dahulu oleh salah seorang pejabat pengadilan Tiongkok, Cai Lun, pada tahun 105 Masehi, dengan bahan-bahan dari kulit kayu murbei, sisa-sisa rami, dan jaring ikan. Kertas memiliki bobot ringan, murah, dan ideal untuk produksi massal, sekaligus mempermudah evolusi industri percetakan berikutnya.
Baca juga: Jenis dan Ukuran Kertas HVS, Pengusaha Percetakan Perlu Tahu
Kertas Dibawa Ke Eropa (abad ke-12)
Pengetahuan tentang pembuatan kertas dan teknik cetak kayu selama berabad-abad menjadi salah satu rahasia tertinggi Tiongkok. Hal itu membuat kertas menjadi komoditas mahal dalam perdagangan dengan Eropa. Begitu pula dengan kebutuhan cetak, negara-negara lain harus datang ke Tiongkok untuk mendapatkan layanan tersebut. Situasi berubah ketika abad ke-8 terjadi Pertempuran Talas.
Sejarah percetakan di Eropa baru dimulai melalui para pembuat kertas dan pengrajin teknik cetak kayu Tiongkok yang menjadi tawanan perang Bangsa Moor. Rahasia di balik pencetakan kertas dan teknik cetak kayu terungkap hingga disebarkan di Eropa melalui Spanyol pada abad ke-12, hingga berdirinya pabrik kertas massal pertama di negara tersebut.
Ini Dia Penemuan Percetakan
Jauh sebelum sejarah percetakan di Indonesia dimulai, eksistensi pabrik kertas massal di Spanyol sukses menjadi pemicu utama serangkaian inovasi dalam industri percetakan dari teknik cetak kayu yang sudah ada. Bangsa Eropa berusaha menyederhanakan prosesnya untuk kebutuhan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya melalui serangkaian perjalanan berikut.
Seni Cetak dari Ukiran Kayu
Produksi kertas yang tinggi pada abad ke-14 menjadi cikal bakal utama jasa percetakan massal hadir di seluruh dunia. Semula, bangsa Eropa menggunakan teknik cetak dengan blok kayu dari Tiongkok dengan jenis kayu yang lebih ringan tapi awet, untuk mencetak gambar-gambar religius dan kartu remi saja. Seiring waktu, teks singkat ditambahkan.
Proses implementasinya memang lebih cepat dari woodblock printing asli Tiongkok, tapi tetap saja menemui kendala serius, yaitu ketidakmampuan mencetak mencetak teks yang panjang. Sebab, setiap halaman memerlukan ukiran blok baru yang padat karya. Ditambah lagi, seawet apapun kayu, ada batas pemakaian maksimal yang membuatnya berakhir aus dan harus mencetak baru.
Pencetakan Metalografi (1440)
Pengrajin Eropa terus memikirkan inovasi untuk mengatasi masalah dalam teknik cetak kayu. Hingga kemudian muncul dasar utama cetak offset, yaitu Metalografi yang mirip cetak blok kayu, tapi memakai blok dari logam. Inovasi ini meningkatkan durabilitas alat, sekaligus meningkatkan efisiensi dan efektivitas waktu maupun tenaga, meskipun masih jauh dari cetak modern.
Penemuan Tipografi oleh Gutenberg
Evolusi puncak dari industri ini, terjadi pada pertengahan abad ke-15 di Mainz, Jerman. Johannes Gutenberg, seorang pandai emas dan pengrajin logam, menggabungkan beberapa teknologi kunci untuk menciptakan sistem percetakan yang revolusioner. Memang bukan mesin cetak digital itu sendiri, melainkan kombinasi dari tiga elemen krusial, yaitu:
- Huruf Lepas dari Logam (Movable Metal Type): Inovasi berupa sistem yang mencetak huruf-huruf individual dari paduan logam (timbal dan timah). Huruf-huruf ini dapat disusun menjadi kata, baris, dan halaman sesuai keinginan, lalu dibongkar setelah selesai untuk penggunaan lain.
- Tinta Berbasis Minyak: Tinta berbasis air yang umum digunakan pada masa itu tidak menempel dengan baik pada cetakan logam. Gutenberg mengembangkan tinta berbasis minyak yang lebih pekat dan tahan lama, menghasilkan cetakan yang tajam dan jelas.
- Mesin Cetak Tekan (Screw Press): Gutenberg juga mengadaptasi mesin tekan yang digunakan untuk membuat anggur dan minyak zaitun menjadi mesin cetak. Mesin ini memungkinkan tekanan kuat dan merata untuk mentransfer tinta dari huruf logam ke kertas secara efisien.
Kombinasi ketiga inovasi inilah yang menjadi awal mula sejarah percetakan digital printing di dunia. Kitab Gutenberg, yang dicetak sekitar tahun 1455, menjadi bukti nyata revolusi industri percetakan yang memungkinkan produksi buku secara massal dengan biaya jauh lebih rendah dan durasi pengerjaan lebih cepat.
Peran Percetakan Modern
Ketika memasuki era modern dengan kemajuan teknologi yang pesat, banyak yang memprediksi bahwa industri percetakan akan berakhir. Generasi modern diduga lebih menyukai produk-produk digital daripada objek-objek fisik hasil cetak. Namun, prediksi tersebut salah besar karena di tengah gempuran digitalisasi, justru hadir layanan cetak digital printing untuk memenuhi kebutuhan target pasar.
Bukan sekadar mencetak buku atau koran seperti dulu, kini industri percetakan bahkan dapat mencetak produk untuk beragam sektor. Mulai dari media komunikasi dan pemasaran seperti brosur dan pamflet, media branding seperti kartu nama dan kemasan, hingga objek custom yang lebih personal untuk kebutuhan khusus konsumen. Relevan dengan kebutuhan zaman sekarang.
Kini, melalui mesin cetak digital, bukan hanya menyajikan produk-produk dengan kualitas dan estetika lebih baik, tapi juga proses pengerjaan yang lebih cepat dan biaya terjangkau. Pemesanan juga bisa dikerjakan mulai skala satuan hingga skala besar, sesuai kebutuhan konsumen. Bahkan, tersedia opsi cetak online yang dapat menjaring pasar lebih luas.
Namun, sederet perkembangan positif itu bukan berarti tanpa tantangan yang membayangi. Hal terberat tentu terkait isu lingkungan dari penggunaan material dari alam seperti kertas, kayu dan sejenisnya, hingga jenis tinta yang menimbulkan limbah berbahaya untuk lingkungan. Beruntungnya, kini sudah teratasi dengan munculnya pilihan material dan alat yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga: Ukuran Kertas A-R dan Non Standar, Jangan Salah Cetak!
Percetakan, Industri Berpeluang Emas
Sejarah percetakan sangat panjang, mulai dari stempel peradaban kuno, penemuan kertas dan teknik cetak kayu di Tiongkok, hingga eksistensi dalam bentuk bisnis modern saat ini. Bila percetakan gagal bertahan, mungkin Anda tidak lagi mendapati KTP, ID Card, brosur, katalog produk, kemasan cantik dan sejenisnya saat ini.
Faktanya, percetakan merupakan salah satu fondasi fundamental di berbagai sektor lain, mulai dari bisnis, pendidikan, sosial dan lainnya. Memahami sejarah panjangnya dapat membantu memanfaatkan produk-produk percetakan secara optimal dalam berbagai aspek kehidupan modern sesuai kebutuhan Anda, seperti Pranata Printing yang siaga jika Anda memerlukan layanan cetak offset atau digital segera!


